Siantar

Siantar
Selasa, 03 Maret 2026, 20:23 WIB
Last Updated 2026-03-03T13:25:52Z
BenderaDairiDesaIntimidasi

Video Kantor Desa di Dairi Terbuka Malam Hari Beredar di Medsos, Pengunggah Resah Merasa Mendapat Intimidasi

Potongan layar unggahan video. (Foto/Istimewa).

Dairi - nduma.id


Video Kondisi Kantor Kepala Desa Bonian, Kecamatan Silima Pungga-Pungga, Kabupaten Dairi beredar di media sosial (medsos) Facebook dan TikTok.


Dalam video yang beredar dijelaskan bahwa rekaman diambil tengah malam, 28 Februari 2026 lalu.


Unggahan itu memperlihatkan Kantor Kepala Desa Bonian yang didapati kondisi pintu terbuka dan juga bendera yang tidak diturunkan dari tiang.


"Kantor Kepala Desa Bonian. Bendera tidak diambil, kantor buka-buka. Kami sebagai anak muda di komplek ini, apabila ini kehilangan pastinya kami tersangka. Dimana kebijakan kantor ini? Apa pekerjaan orang itu di sini? Inilah dia Kantor Kepala Desa Bonian tadi. Ini bendera. Tanggal 28, jam 00. Inilah dia kondisi Kantor Kepala Desa. Di mana pekerjanya? Kek mana? Ini kantor buka-buka. Tidak ada manusia di dalam. Komputer di situ semua. Dimana kebijakan pekerjaannya?" Ucap pria di dalam video yang beredar.


Pemilik akun Facebook Silala Naiborhu, yang mengunggah video tersebut, saat dimintai keterangan awak media mengatakan video tersebut direkam oleh keponakannya, Hairul Padang, yang pada malam itu melintas di depan kantor desa, dan melihat kantor kondisi pintu terbuka seperti di dalam rekaman video.


Khawatir dengan hal-hal yang tidak diinginkan, keponakannya kemudian spontan merekam.


"Yang merekam video itu bereku (keponakan.red). Kebetulan lewat dia malam itu, dilihatnya terbuka pintunya. Takut ada apa-apa direkamnya," kata Lumban Saraan, pemilik akun Facebook saat dihubungi melalui panggilan WhatsApp, Selasa (3/3/2026).


"Setelah itu dipostingnya ke akun TikToknya," lanjutnya.


Ia juga mengatakan pasca di posting, keponakannya terkesan mendapatkan intimidasi dari aparat desa setelah videonya beredar.


"Senin kemarin, dipanggil dia ke kantor desa. Kayak diintimidasi gitu," terangnya.


Ia juga mengirimkan video rekaman saat keponakannya memenuhi panggilan dari aparat desa.


Menurutnya, Pemerintah Desa Bonian kurang memiliki rasa tanggung jawab dalam menjaga aset publik.


Ia juga mengatakan kalau sejak Selasa siang, keponakannya mulai merasa tidak nyaman karena mendapat "teror" dari sang Kepala Desa dan stafnya.


"Tadi pun bere itu sudah mulai tidak nyaman, seperti diteror-teror, sama Kepala Desa dan stafnya," ungkap Lumban Saraan.


Ia menilai kalau Pemerintah Desa Bonian seperti anti terhadap kritikan dari masyarakatnya.


Video tersebut juga telah dibagikan ratusan kali dan mendapat ribuan "like" dan beragam komentar.


Terpisah, upaya konfirmasi yang dilakukan kepada Kepala Desa Bonian, Domu Tua Manalu, belum berhasil. Saat dihubungi, nomor kontaknya tidak aktif.


Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Kadis Pemdes) Kabupaten Dairi, Simon Tonny Malau saat dimintai tanggapan mengenai hal itu sangat menyesalkan kejadian tersebut.


"Sangat disayangkan kejadian seperti ini. Saya akan lakukan cros cek dulu ke pemerintah desa terkait hal ini dan meminta klarifikasi," kata Simon Tonny melalui pesan WhatsApp.


Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah desa mempunyai tanggung jawab penuh dalam menjaga dan merawat aset desa.


"Pemerintah desa wajib memelihara dan menjaga aset desa sebagai pengguna dari aset dimaksud," lanjutnya.


Terkait aturan mengenai pengibaran bendera, Kadis Pemdes Kabupaten Dairi itu mengatakan akan mempelajari dahulu tentang aturan yang berlaku.


"Saya pelajari dulu aturannya pak," sebutnya.


Camat Silima Pungga-Pungga, Edwin Nababan selaku pembina pemerintah desa di wilayahnya, mengatakan akan memberikan surat teguran kepada Kepala Desa Bonian atas persoalan tersebut.


"Kebetulan tadi kami ikut Musrembang. Tapi tadi sudah saya perintahkan kepada Kasi Pemerintahan untuk dibuatkan surat teguran atau surat peringatan kepada Kades. Dan juga supaya Kades memberikan teguran kepada stafnya," jelas Edwin Nababan melalui panggilan WhatsApp.


Penulis : Dody

Redaktur : Rudi