Siantar

Siantar
Jumat, 24 April 2026, 09:36 WIB
Last Updated 2026-04-24T02:36:41Z
DairiDewan Perwakilan RakyatKejaksaanKomisi Pemberantasan KorupsiPolri

Tanggapan Bupati Dairi soal Anggaran Konsumsi dan Pakaian Dinas Kembali Dikritik

Arifatullah Manik. (Foto/Dody).

Dairi - nduma.id


Kritik soal alokasi anggaran Pemkab Dairi tahun 2026 belum menemukan titik terang. 


Setelah Bupati Dairi Vickner Sinaga memberikan penjelasan terkait kritik pos belanja konsumsi dan pakaian dinas, kalangan aktivis mahasiswa justru kembali mempertegas kritik mereka. 


Penjelasan yang disampaikan Vickner Sinaga dinilai tidak mencerminkan kepekaan terhadap kondisi riil masyarakat yang saat ini masih menghadapi berbagai kesulitan ekonomi.

 

Arifatullah Manik, aktivis mahasiswa Dairi, menegaskan bahwa persoalannya bukanlah soal besar atau kecilnya angka anggaran, melainkan soal arah kebijakan dan skala prioritas yang ditetapkan pemerintah daerah.


“Pemerintah tidak bisa hanya berdalih bahwa angka tersebut wajar atau lebih kecil dari tahun sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan publik adalah, apakah belanja tersebut benar-benar menjadi kebutuhan mendesak di tengah kondisi masyarakat hari ini?” tegas Arifatullah Manik, Kamis (23/4/2026).


Menurut Arif, kondisi masyarakat saat ini masih banyak dihadapkan pada berbagai persoalan-persoalan mendasar.


Masyarakat masih dihadapkan dengan kesulitan ekonomi. 


Daya beli masyarakat yang semakin berkurang, kelangkaan pupuk, dan juga lemahnya perputaran ekonomi di tingkat bawah. 


"Namun pemerintah justru terkesan lebih menonjolkan belanja yang bersifat seremonial," ujarnya.


Aktivis muda yang akrab disapa Arif ini juga menyoroti klaim bahwa belanja makan minum untuk menjamu tamu dan investor akan berdampak pada masuknya investasi dalam jumlah besar ke Kabupaten Dairi.


“Pernyataan soal adanya ‘order ratusan miliar’ harus dibuktikan secara transparan kepada publik. Siapa investornya, apa bentuk investasinya, dan sejauh mana dampaknya terhadap masyarakat lokal? Jangan sampai ini hanya menjadi narasi pembenaran anggaran,” lanjutnya.


Arif menegaskan bahwa pemerintah daerah seharusnya mampu menunjukkan komitmen terhadap efisiensi anggaran dengan menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai prioritas utama, bukan sekadar membandingkan angka dengan tahun sebelumnya.


“Kalau berbicara efisiensi, maka yang harus dikurangi adalah belanja yang tidak berdampak langsung pada rakyat. Pemerintah harus memberi contoh, bukan justru mempertontonkan pola anggaran yang tidak sensitif terhadap kondisi masyarakat,” ujarnya.


Di akhir pernyataannya, Aktivis Mahasiswa Dairi itu mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan pemerintah daerah bukan terletak pada besarnya anggaran yang dihabiskan, melainkan pada manfaat nyata yang dirasakan oleh masyarakat luas.


Sebelumnya diberitakan, anggaran belanja konsumsi Pemkab Dairi dan belanja pakaian dinas kepala daerah tahun 2026 mendapat sorotan dari kalangan aktivis mahasiswa dan pemuda.


Mereka menilai, arah kebijakan Pemkab Dairi tidak sejalan dengan semangat efisiensi anggaran yang diagungkan oleh pemerintah pusat, dan tidak mengindahkan instruksi Presiden Prabowo Subianto.


Berdasarkan data yang diperoleh, Arifatullah Manik, aktivis mahasiswa dan pemuda Dairi mengungkapkan bahwa Pemkab Dairi mengalokasikan dana dalam jumlah fantastis untuk belanja makan - minum, dan belanja pakaian dinas Bupati dan Wakil Bupati.


Arif menyampaikan bahwa belanja makan dan minum rapat sebesar Rp. 6.974.324.686, belanja jamuan tamu Rp. 475.421.000, belanja aktivitas lapangan Rp. 424.293.000, serta belanja makan dan minum pada fasilitas pelayanan kesehatan sebesar Rp. 29.250.000.


Untuk belanja pakaian dinas Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebesar Rp. 22.000.000, pakaian sipil harian Rp. 291.712.800, pakaian sipil lengkap Rp. 16.940.000, pakaian dinas harian Rp.111.050.000, pakaian dinas lapangan Rp. 58.852.800, pakaian sipil resmi Rp. 11.712.800, pakaian dinas upacara Rp. 16.940.000, serta pakaian adat daerah Rp. 14.000.000.


“Jika ditotal, anggaran makan minum mencapai miliaran rupiah, sementara belanja pakaian dinas juga ratusan juta rupiah. Ini menunjukkan tidak adanya kepekaan terhadap kondisi masyarakat,” ucap Arif, Selasa (21/4/2026).


Bupati Dairi, Vickner Sinaga saat dimintai tanggapan mengenai hal itu mengatakan bahwa pengalokasian anggaran tersebut merupakan hasil dari pembahasan antara pihak Pemkab dan DPRD Dairi.


Vickner juga menyayangkan kritikan tersebut dilontarkan tanpa menyampaikan berapa seharusnya angka yang pantas untuk dialokasikan.


"Narasinya subjektif. Eloknya, diberi angka yang patut, menurut pemosting. Bandingkan dengan kabupaten tetangga. Semua mata anggaran dan nilainya dibahas detil di tataran perencanaan, lalu dieksekusi dan pasti diaudit. Pasti dipertanggungjawabkan si pemegang anggaran," kata Vickner Sinaga, Rabu (22/4/2026).


"Coba, pakaian adat bupati & isteri plus wabup & Isteri, 11 juta, sudah termasuk dengan asesoris adat Pakpak lengkap, disebut mahal?" tambahnya.


Terkait belanja makan dan minum, Vickner menyampaikan bahwa hal itu tentunya pada akhirnya akan memberikan dampak positif atau keuntungan.


"Bijak juga dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Contoh makan minum tamu untuk 1 thn 475 juta. Sekitar 1,3 jt /hari. Baik tamu resmi instansi vertikal, DPR RI, dll. Termasuk menjamu para investor. Dan hasilnya, nanti bisa dilihat di akhir tahun anggaran. Ordenya empat ratusan miliar lebih, Dairi mendapat," jelas Bupati Dairi itu.


Penulis : Dody

Redaktur : Rudi