Siantar

Siantar
Selasa, 28 Juli 2026, 06:57 WIB
Last Updated 2026-07-27T23:57:32Z
di PematangsiantarHari Anak NasionalLestarikan BudayaLomba Urdou-urdouMeriahSimalungunWesly Silalahi

Hari Anak Nasional di Pematangsiantar Meriah dengan Lomba Urdou-urdou, Wesly Silalahi: Lestarikan Budaya Simalungun

Foto bersama saat Acara Lomba Urdou-urdou di Pematangsiantar, 27 Juli 2026. (Foto/Ari)

PEMATANGSIANTAR
– Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026 dengan cara yang berbeda. Melalui Lomba Urdou-urdou, tradisi nyanyian pengantar tidur khas Simalungun kembali dihidupkan sebagai media mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak sekaligus melestarikan budaya lokal.

Kegiatan yang mengusung tema "Membangun Hubungan Emosional Anak dengan Orang Tua melalui Urdou-urdou" tersebut digelar di Lapangan Adam Malik, Senin (27/7/2026), dan diikuti 54 peserta dari seluruh kelurahan di Kota Pematangsiantar.

Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, S.H., M.Kn., yang hadir mengenakan pakaian adat Simalungun lengkap dengan Gotong Parhorja, mengatakan peringatan Hari Anak Nasional bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam melindungi hak-hak anak sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.

"Atas nama Pemerintah Kota Pematangsiantar, saya mengucapkan Selamat Hari Anak Nasional kepada seluruh anak-anak Indonesia, khususnya anak-anak Kota Pematangsiantar. Anak adalah anugerah yang harus dijaga, dilindungi, dan dipersiapkan menjadi generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing," ujar Wesly.

Ia menjelaskan, peringatan Hari Anak Nasional 2026 mengusung semangat "Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", yang di Kota Pematangsiantar diterjemahkan melalui tema "Merawat Tradisi Simalungun, Mengasuh Sepenuh Hati."

Menurut Wesly, membangun masa depan anak tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal dan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga melalui pola pengasuhan yang penuh kasih sayang serta pelestarian budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat.

"Tema ini mengandung makna yang sangat dalam. Masa depan anak dibangun tidak hanya melalui pendidikan dan pemenuhan gizi, tetapi juga melalui pengasuhan yang penuh kasih sayang serta pelestarian nilai-nilai budaya lokal," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Wesly menegaskan bahwa tradisi Urdou-urdou bukan sekadar lagu pengantar tidur, melainkan warisan budaya yang sarat makna.

Menurutnya, nyanyian tradisional tersebut menjadi simbol kasih sayang orang tua kepada anak, memperkuat ikatan emosional, memberikan rasa aman, sekaligus membantu perkembangan bahasa, emosi, dan pembentukan karakter anak sejak usia dini.

"Tradisi ini bukan sekadar lagu pengantar tidur. Urdou-urdou merupakan bentuk kasih sayang orang tua kepada anak yang memperkuat ikatan batin, memberikan rasa aman, serta menjadi media stimulasi perkembangan bahasa, emosi, dan karakter anak sejak usia dini," jelasnya.

Wesly juga menegaskan komitmen Pemko Pematangsiantar untuk terus meningkatkan kualitas pengasuhan anak melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya Tanoto Foundation.

Sinergi tersebut diarahkan untuk memperkuat pendidikan anak usia dini, meningkatkan peran keluarga dalam pengasuhan, serta memastikan setiap anak memperoleh haknya untuk tumbuh, belajar, bermain, dan berkembang secara optimal.

Ia pun berpesan kepada seluruh anak agar terus belajar dengan tekun, menghormati orang tua dan guru, mencintai budaya daerah, serta tumbuh menjadi generasi yang kreatif, berakhlak, dan percaya diri.

"Hari ini bukan hanya hari untuk bergembira dan mengikuti perlombaan, tetapi juga hari untuk mengingatkan kita semua bahwa kalian adalah harapan bangsa. Belajarlah dengan rajin, hormati orang tua dan guru, cintai budaya daerah, serta tumbuhlah menjadi anak-anak yang berakhlak baik, kreatif, dan percaya diri," pesannya.

Wesly berharap peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam melindungi hak-hak anak serta mempersiapkan Generasi Emas Indonesia menuju tahun 2045.

"Selamat Hari Anak Nasional Tahun 2026. Anak Hebat, Indonesia Kuat. Merawat Tradisi Simalungun, Mengasuh Sepenuh Hati," pungkasnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kota Pematangsiantar Ny. Liswati Wesly Silalahi, yang tampil mengenakan Bulang Sulappei, mengatakan lomba tersebut bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga upaya nyata melestarikan budaya Simalungun sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak.

"Terima kasih kepada seluruh orang tua yang mengikuti lomba ini. Kegiatan ini bertujuan mendekatkan ikatan batin antara orang tua dan anak. Cinta seorang ibu adalah cinta tanpa syarat. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi kita semua," ujarnya.

Perwakilan Tanoto Foundation menambahkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mengembalikan peran utama keluarga dalam pengasuhan anak.

Menurutnya, orang tua harus hadir secara utuh dalam kehidupan anak, tidak hanya secara fisik tetapi juga melalui komunikasi, perhatian, dan pendampingan sejak usia dini.

Selain itu, momentum Hari Anak Nasional juga menjadi ajakan untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai (screen time) dengan menghidupkan kembali permainan tradisional serta tradisi lisan yang mulai ditinggalkan.

"Urdou-urdou bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi stimulasi dini yang membantu perkembangan motorik anak. Tradisi ini memadukan ilmu pengasuhan modern dengan kearifan lokal," jelasnya.

Ketua Panitia Rasta Elya Ginting dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Pematangsiantar, TP PKK Kota Pematangsiantar, dan Tanoto Foundation.

Lomba diikuti 54 peserta dari seluruh kelurahan di Kota Pematangsiantar dengan dewan juri yang terdiri dari budayawan Hotman Damanik, komposer Simalungun Mannes Purba, dan budayawan Jayamin Sipayung.

Rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan cendera mata berupa Sarunei, alat musik tradisional Simalungun, dari budayawan kepada Wali Kota Wesly Silalahi yang didampingi Ketua TP PKK Ny. Liswati Wesly Silalahi sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Simalungun.

Turut hadir mewakili Forkopimda Kota Pematangsiantar, Sekretaris Daerah Junaedi Antonius Sitanggang, SSTP., M.Si., para staf ahli, asisten, pimpinan OPD, Dewan Pengawas Perumda Air Minum Tirta Uli Dedy Novrianto Sinaga, M.I.Kom., perwakilan Tanoto Foundation, para camat, lurah, serta masyarakat yang antusias menyaksikan perlombaan tersebut. Penulis (Ari)