![]() |
| Tanaman kakao di kebun warga Desa Pandiangan. (Foto/Dody). |
Dairi - nduma.id
Lebih dari 90 persen penduduknya di Kecamatan Silima Pungga-Pungga dan Kecamatan Lae Parira di Kabupaten Dairi Sumatera Utara menggantungkan hidup dari ladang dan kebun.
Namun, kehadiran aktivitas pertambangan di sekitar wilayahnya ternyata tidak mengganggu ritme aktivitas pertanian mereka, khususnya terkait kebutuhan air
Seperti pengakuan warga dan perangkat desa di Desa Bonian, dan Desa Bongkaras di Kecamatan Silima Pungga-pungga, serta di Desa Pandiangan, Kecamatan Lae Parira.
Ditemui wartawan Jumat 7 Agustus 2026, sejumlah petani di desa itu mengaku kebutuhan air di daerah mereka masih tercukupi.
Baik untuk keperluan rumah tangga maupun pertanian.
Hal ini juga di akui perangkat Desa.
Pantauan di lapangan, masyarakat di 3 desa ini sebagian besar menggantungkan mata pencaharian dari sektor pertanian palawija dan perkebunan, seperti jagung, kakao, kopi, gambir, durian, duku, dan juga manggis.
Namun ada juga beberapa yang masih menanam padi.

Tanaman jagung warga Desa Pandiangan. (Foto/Dody).
Seperti di Desa Bonian yang dihuni sekitar 871 jiwa yang terdiri dari 264 kepala keluarga (KK), masyarakatnya masih mengandalkan sumber air dari kawasan pegunungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kepala Seksi Tata Pemerintahan (Kasi Tapem) Desa Bonian, Suhardi Pangaribuan, mengatakan bahwa secara umum kondisi pertanian masyarakat di sana masih berjalan normal seperti biasa.
Ralam Sinambela, selaku Kepala Dusun IV di desa itu juga menyampaikan bahwa kebutuhan air warga yang bersumber dari kawasan pegunungan juga masih terpenuhi.
Dua warga yang ditemui, Juanda Simamora (50) dan Ungkap Silalahi (68), yang berprofesi sebagai petani juga mengatakan kalau hasil pertanian mereka masih normal seperti biasa.
"Kalau selama ini ga ada pengaruh apa-apa. Hasil pertanian masih sama aja dengan sebelumnya. Ga ada dampak lah," ujar Juanda.
"Tidak ada pengaruh ke pertanian dengan adanya aktivitas pertambangan PT DPM," tandas Ungkap Silalahi.
Sedangkan di Desa Bongkaras, desa yang dihuni 917 jiwa atau 260 Kepala Keluarga ini, penduduknya juga masih bertani seperti biasa.
Menurut Kasi Tapem Desa Bongkaras, Jarmian Purba, kebutuhan air juga masih berjalan normal.
Dengan sumber air yang diperoleh dari kawasan pegunungan dan dikelola oleh desa.
Salah seorang warga, yang juga petani, tua, boru Purba (76), menyampaikan kalau kondisi pertanian di desanya masih baik.
"Lahan pertanian masih bagus. Masih sama aja. Ga ada pengaruhnya sebelum dan sesudah ada tambang," kata boru Purba.
"Air kita juga bagus. Air gunung," imbuhnya.
Sementara di Desa Pandiangan, yang dihuni 1.654 jiwa atau 463 Kepala Keluarga, hal yang sama juga disampaikan oleh perangkat desa dan juga masyarakat.
Kasi Tapem Desa Pandiangan, David Simanungkalit, menyampaikan bahwa kebutuhan air masyarakat hingga saat ini masih terpenuhi, dan dikelola oleh Perumda Air Minum Lae Nciho.
Direktur Perumda Air Minum Lae Nciho, Wahlin Munthe, menjelaskan bahwa sumber air untuk desa tersebut berasal dari kawasan hutan Bukit Pandiangan.
"Untuk Desa Pandiangan, sumber air dikelola oleh Perumda Lae Nciho. Sumbernya berasal dari hutan Bukit Pandiangan dan juga digunakan untuk masyarakat Lumban Sihite," kata Wahlin menjelaskan.
Ia juga mengatakan kalau hingga saat ini tidak terdapat persoalan berarti dalam pemenuhan kebutuhan air masyakat di desa tersebut.
Warga yang ditemui juga mengatakan hal yang senada terkait pertanian mereka.
Seperti yang diungkapkan oleh boru Siringoringo dan boru Nababan, saat ditemui di lokasi perkebunan mereka.
"Kalau untuk pertanian kita masih sama aja seperti dulu. Ga ada pengaruh ke hasil pertanian kita dengan sebelum dan sesudah ada perusahaan tambang," ungkap keduanya.
Sumber air juga katanya masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dari keterangan yang disampaikan, secara umum menunjukkan bahwa aktivitas pertanian di ketiga desa tersebut masih berjalan normal dan kebutuhan air bersih masyarakat juga masih terpenuhi.
Bagi masyarakat desa, sumber air yang berasal dari kawasan hutan ataupun pegunungan merupakan penopang kehidupan.
Untuk itu, upaya menjaga kelestarian sumber mata air ataupun daerah tangkapan air, dan juga kualitas lingkungan menjadi hal penting agar masyarakat dapat terus merasakan manfaatnya untuk jangka panjang.
Penulis : Dody
Redaktur: Rudi
