Domian

Domian

Wahyu Sagala

Wahyu Sagala
Rabu, 24 Agustus 2022, 16:38 WIB
Last Updated 2022-08-24T09:44:25Z
Dairi

Tolak Tambang, Warga Pajang Spanduk Raksasa, Tabur Bunga dan Orasi di Boneka Mirip Bupati

Warga berorasi di depan boneka berwajah mirip Bupati Dairi. (Foto/Rudi).

DAIRI, Sidikalang - nduma.id

Aksi damai tolak tambang digelar masyarakat di depan Kantor Bupati Dairi, Sumatera Utara, Rabu (24/8/2022).

Mereka membentang Spanduk Raksasa berisi tulisan menolak keberadaan PT. Dairi Prima Mineral.  

Selain itu warga juga memajang boneka bergambar mirip wajah Bupati Dairi, Eddy Keleng Ate Berutu, duduk diatas sova warna merah.

Di depan boneka itu, warga bergantian berorasi menyampaikan keluhannya.

Mereka juga mengaku menyesal memilih Pasangan Eddy - Jimmy pada pilkada lalu.

"Kita sudah 4 kali melakukan aksi yang sama di sini tapi sampai hari ini Bupati Dairi tidak pernah datang menemui kita," kata Boy Hutagalung, Devisi Advokasi Petrasa.

Boneka mirip Bupati Dairi itu disebutnya sebagai simbol kekecewaan mereka kepada bupati.

"Bahwa hati nuraninya bupati sudah mati. Akhirnya kita inisiasi, inilah simbol, bupati hanya bisa diam dan tidak pernah menyampaikan sepatah dua patah pun kepada masyarakat, bupati hanya diam dengan persoalan ini," ujar Boy. 

Warga menabur bunga di atas spanduk orasi bentuk kekecewaan. (Foto/Rudi).

Boy mengaku ada sejumlah tuntutan mereka, pertama bahwa dari laporan CAO ombudsman, Dairi sudah tidak layak di tambang karena berada di patahan gempa dan akan ada bencana kalau akhirnya DPM di buka di Dairi. 

Untuk itu mereka mau bupati mendukung gerakan mereka khususnya mencabut SK.KLH nomor 731 tahun 2005 atas kelayakan lingkungan yang di keluarkan Bupati Dairi.

Sementara itu Tioman Simangunsong (63) mengaku ikut menolak kehadiran perusahaan tambang di kampungnya, karena takut akan bencana.

Warga Kelurahan Parongil itu juga khawatir akan sumber air mereka.

"Sumber air kami cuma satu yaitu dari Sopokomil dan kira-kira 2 sampai 300 meter dari lokasi tambang," kata Tioman.

Aktifitas pertambangan dikhawatirkannya akan merusak sumber air dan pertanian mereka.

"Kalau sekarangkan masih bagus soalnyakan belum buka. Airnya dipakai oleh 7 Desa tambah 1 Kelurahan," katanya.

Dia berharap perusahaan tambang ini bisa di tolak.

Aksi warga ini akhirnya diterima oleh Sekda Kabupaten Dairi. 

Kepada Sekda, warga hanya menyerahkan anvelope coklat yang katanya berisi tuntutan.

Usai menyerahkan itu Sekda langsung beranjak masuk kembali ke Kantor Bupati Dairi meninggalkan warga.

Aksi di tutup dengan tabur bunga sebagai bentuk prihatin matinya nurani bupati terhadap keluhan warga.

Warga membubarkan diri setelah doa bersama. 

Selain di Kabupaten Dairi, Aksi serupa juga di gelar di sejumlah tempat.

Di Medan digelar di Kantor Konsulat Jendral China.

Sedangkan di Jakarta di gelar di  Kantor Kedutaan Besar Rakyat Tiongkok dan Kantor Kementerian Lingkungan Hidup. (nd1).