Siantar

Siantar
Senin, 27 Juli 2026, 19:47 WIB
Last Updated 2026-07-27T13:09:12Z
DairiDemokrasiKudatuliPartai Demokrasi Indonesia PerjuanganPolitikWakil Rakyat

PDI Perjuangan Dairi Mengenang 30 Tahun Kudatuli, Resoalon : Kebenaran Pasti Menang

Suasana refleksi Peringatan Kudatuli dengan penyalaan 27 Lilin. (Foto/Fajar).

Dairi - nduma.id

 

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Kabupaten Dairi memperingati tepat 30 tahun peristiwa bersejarah Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli), tepatnya Tragedi 27 Juli 1996. 


Peringatan berlangsung khidmat di Kantor DPC PDIP Kabupaten Dairi, Jalan Pandu, Sidikalang, diwarnai pemutaran film dokumenter peristiwa kelabu itu serta penyalaan 27 Lilin sebagai simbol tanggal peristiwa.

 

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Dairi, Resoalon Lumban Gaol, mengatakan kegiatan ini dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia sebagai momen refleksi sejarah. 


Dalam sambutannya, Ia mengajak seluruh kader merenungkan kembali perjuangan para pendahulu yang berdarah-darah di bawah rezim Orde Baru.

 

"Peristiwa Kudatuli adalah penyerbuan dan bentrokan berdarah di Kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro No. 58 Jakarta Pusat — yang kini menjadi kantor pusat kita. Pada 27 Juli 1996 itu dipicu oleh dualisme kepemimpinan antara kubu Megawati Soekarnoputri dan kubu Suryadi yang didukung Orde Baru," papar Resoalon.

 

Ia menguraikan kronologi: massa kubu Suryadi menyerang paksa kantor DPP PDI Perjuangan.


Berdasarkan data Komnas HAM, tragedi ini memakan korban 5 orang meninggal, 149 luka-luka, dan 23 orang hilang hingga kini. 


Resoalon juga mengungkap fakta persiapan penyerangan yang melibatkan berbagai orang.

 

"Kebenaran pasti menang. Perjuangan di masa Orde Baru sangat kelam dan berdarah-darah. Mari kita bersatu, lawan egoisme, dan lawan segala upaya yang ingin mengecilkan partai kita," tegas Resoalon diakhiri teriakan "Merdeka! Merdeka!".


Dalam refleksinya Resoalon juga  berpesan kepada rekan-rekan juangnya di PDI Perjuangan Kabupaten Dairi sampai ke  tingkat Ranting bahwa peristiwa Kudatuli itu bukan sekedar tanggal di lembar kalender saja, melainkan saksi bisu ketika kekuasaan yang represif mencoba membungkam kedaulatan dan mematikan keadilan.


Meski sudah 30 tahun berlalu, tapi menurutnya api perlawanan terhadap ketidakadilan tidak boleh padam.


"Memperingati Kudatuli bukan untuk memelihara dendam melainkan mengingat keras bahwa hak berserikat berkumpul dan mengeluarkan pendapat adalah harga mati," tandas Resoalon.


Kepada rekan-rekan juangnya, Ia menyampaikan mungkin ada kader-kader PDI Perjuangan yang belum lahir pada tahun itu, karena itu Ia  harus ingatkan bahwa PDI Perjuangan berdiri dengan bertumpah darah.


"Pejuang-pejuang PDI Perjuangan dulu sangat mati- matian berdarah-dalam untuk membesarkan partai ini, kadang dicambuk, kadang diuber-uber, kadang dipenjara, semua sudah dilakukan. Untuk ini pesan kami kepada pejuang-pejuang yang lama tetap semangat semoga kami bisa melaksanakan regenerasi untuk perjuangan yang anda inginkan," sebutnya.

 

Sementara itu, Ketua Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Kabupaten Dairi, Andi Silalahi, menilai Kudatuli sebagai momen pembungkaman demokrasi. 


Ia menekankan pentingnya ideologi Marhaenisme sebagai ujung tombak yang merawat dan melindungi rakyat.

 

"Kita menyaksikan adanya pembungkaman orang-orang kritis. Namun kami yakin, PDI Perjuangan tetap berpegang pada Pancasila dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," ujar Andi.

 

Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Dairi, Sastra Lingga yang juga hadir di acara itu memberikan refleksi, bahwa kekuasaan yang lahir dari rakyat tidak boleh dibalik menjadi menindas rakyat. 

 

"Kekuasaan yang dimanfaatkan bukan untuk keadilan, tidak akan bertahan lama. Sejarah membuktikan Orde Baru pun akhirnya runtuh. Semoga PDI P tetap menjadi rumah besar rakyat ke depan," katanya.

 

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Dairi, Alvensius Tondang membacakan pusi di acara itu.


Kudatuli atau Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli adalah peristiwa penyerbuan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996. 


Tragedi ini dipicu oleh dualisme kepemimpinan antara kubu Megawati Soekarnoputri dan kubu Soerjadi. 


Giat dihadiri oleh Fungsionaris PDI Perjuangan Kabupaten Dairi, Perwakilan Pengurus Kecamatan dan anggota DPRD Dairi dari Fraksi PDI Perjuangan.


Penulis : Rudi

Redaktur : Son