Siantar

Siantar
Minggu, 19 Juli 2026, 11:26 WIB
Last Updated 2026-07-20T04:54:30Z
budayaSiantarTokoh Agama

Tokoh Agama di Pematangsiantar Ikut Seminar Kepemimpinan dan Nasionalisme, Gagas Keberagaman Sebagai Kekuatan Persatuan

Foto bersama saat acara Seminar Sehari para tokoh agama Pematangsiantar, Sabtu 18 Juli 2026. (Foto/Ari).

Pematangsiantar - nduma.id


Para tokoh agama dari berbagai latar belakang di Kota Pematangsiantar berkumpul dalam Seminar Sehari bertema “Membangun Jiwa Kepemimpinan dan Nasionalisme”, Sabtu 18 Juli 2026. 


Kegiatan berlangsung di Gedung Serbaguna Pemko Pematangsiantar, Jalan Merdeka.

 

Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi diwakili Staf Ahli Bidang Pembangunan Muhammad Hamdani Lubis SH secara resmi membuka kegiatan tersebut. 


Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Sinode Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) khususnya Departemen Kesaksian yang telah menginisiasi forum strategis ini.

 

“Seminar ini langkah sangat tepat untuk memperkuat semangat kepemimpinan, persaudaraan, toleransi, dan cinta tanah air di tengah keberagaman masyarakat Pematangsiantar,” ujar Hamdani.

 

Pematangsiantar dikenal sebagai kota majemuk yang dihuni beragam suku, agama, dan budaya – sebuah potensi besar yang harus terus dirawat. Melalui dialog seperti ini, diharapkan tumbuh saling pengertian dan komitmen menjaga persatuan.

 

“Kepemimpinan bukan sekadar memimpin organisasi, melainkan menjadi teladan di keluarga, lingkungan, tempat ibadah, dan masyarakat. Begitu pula nasionalisme harus diwujudkan lewat tindakan nyata: menjaga persatuan, menghargai perbedaan, dan berkontribusi bagi kemajuan daerah,” tegasnya.

 

Pemerintah juga mengajak tokoh agama menjadi mitra strategis dalam membina umat, menanamkan nilai moral-kebangsaan bagi generasi muda, serta terus meningkatkan predikat Indeks Kota Toleran (IKT) hingga menempatkan Pematangsiantar di peringkat pertama.

 

Sekretaris Jenderal GKPS Pdt Dr Janhotner Saragih menyambut baik semangat tersebut. Ia menegaskan Pematangsiantar adalah “miniatur Indonesia”, di mana perbedaan adalah karunia Tuhan untuk mempererat persaudaraan, bukan membangun tembok pemisah.

 

“Kita ingin dukung visi Pemko mewujudkan kota yang aman, damai, dan sejahtera dengan merawat kerukunan antarumat beragama,” tambahnya.

 

Seminar menghadirkan tiga narasumber: Pdt Dr Janhotner Saragih (Sekjen GKPS) dengan topik Kepemimpinan, Persaudaraan, Keberagaman; Drs H Rasyid Nasution (Ketua Komisi Hubungan Antar Umat Beragama MUI Pematangsiantar) dengan topik Merawat Kebhinekaan dan Membangun Indonesia; serta Dr H Bahrum Saleh MA (Kepala Kantor Kemenag Simalungun) dengan topik Keberagaman sebagai Kekuatan Bangsa. Kegiatan dimoderatori Pdt Tri Putri Saragih STh.

 

Melalui diskusi tersebut, disepakati sejumlah poin komitmen bersama.


Pertama keberagaman adalah keuntungan bersama, bukan alasan perpecahan.


Kedua, kepemimpinan adalah kesempatan melayani dan mensejahterakan orang banyak.


Ketiga, perbedaan keyakinan tidak menghalangi bergandengan tangan dalam kebaikan.


Keempat, tolak segala bentuk rasisme, kita semua bersaudara di bawah NKRI.


Kelima, hubungan vertikal dengan Tuhan adalah urusan pribadi, hubungan horizontal harus dijaga setara tanpa merendahkan siapa pun.


Keenam, jadilah pribadi yang bermanfaat, itu adalah bentuk kebaikan yang nyata

 

Diharapkan forum ini menjadi tonggak penguatan karakter dan semangat kebangsaan bagi seluruh elemen masyarakat Pematangsiantar.


Penulis : Ari

Redaktur : Rudi