Domian

Domian

Wahyu Sagala

Wahyu Sagala
Kamis, 01 September 2022, 10:51 WIB
Last Updated 2022-09-03T03:54:00Z
Dairi

Wanita Dairi Pakai Pakaian Pakpak di Gebyar Berkebaya Nusantara

Wanita Dairi pakai Pakaian Pakpak. (Foto/Kominfo Dairi)

Medan – nduma.id

Provinsi Sumatera Utara menjadi menjadi tuan rumah Parade dan Gebyar Berkebaya Nusantara. Minggu 28 Agustus 2022 lalu.

Ini merupakan yang ke 3 dimana sebelumnya Timnas Pengajuan Hari Kebaya Nasional menggelar kegiatan serupa di 3 kota yakni, Kota Solo, Semarang dan Jakarta.

Bertempat di Lapangan Banteng, Kota Medan, Parade ini diinisiasi oleh Ketua Umum Rumah Lintas Agama (RKLA) sekaligus Penanggung Jawab Parade dan Gebyar Kebaya Nasional, Hj Bunda Indah, dan disemarakkan seluruh perwakilan perempuan dari 33 Kabupaten/Kota.

Ketua TP PKK Romy Mariani Eddy Berutu memimpin rombongan perempuan perwakilan dari Kabupaten Dairi.

Dia mengatakan keberagaman budaya adalah kekayaan bangsa kita dan menjadi identitas yang melekat bagi sebuah suku bangsa yang bisa menunjukkan jati diri.

Pada momen itu, perempuan Dairi dengan bangga memakai baju tradisional Pakpak lengkap yang khas dengan benang sitelu rupa atau warna khas Pakpak, hitam, merah dan putih, dan yang paling menonjol adalah warna hitamnya.

“Busana Pakpak ini menggambarkan keagungan, tetapi penuh kesantunan. Ini adalah refleksi rasa bangga untuk menampilkan tradisi dalam kegiatan-kegiatan publik. Perwujudan kebanggaan pada budaya sendiri,” tegas Romy Mariani.

Baju perempuan Pakpak awalnya terbuat dari beludru hitam yang pada masa lalu didapatkan dari daerah Barus yang dibawa oleh Saudagar India ke Aceh.

“Para Raja dan Bangsawan zaman dahulu itu menggunakan beludru sebagai bahan pakaian mereka. Namun sejalan dengan perkembangan zaman baju atasan atau kebaya tersebut dibuat dari berbagai macam bahan disesuaikan dengan kesanggupan ekonomi dan bentuk acara yang diikuti,” katanya menambahkan.

Dalam parade ini, kontingen Kabupaten Dairi mendapatkan perhatian dan apresiasi dari panitia dan peserta karena menampilkan kebaya yang berbeda dan khas daerah sendiri.

Respon ini menurut Romy dirasakan perlu agar berbagai pihak semakin mengenal budaya daerah yang sangat kaya makna tersebut.

“Mari kita dukung Kebaya sebagai Pakaian asli Bangsa Indonesia bukan milik negara lain dengan secara konsisten memakai dan memberitakan kepada masyarakat kita dan dunia bahwa Kebaya adalah warisan budaya bangsa Indonesia. Semoga terwujud cita-cita kita untuk menjadikan Kebaya sebagai warisan budaya bukan benda di UNESCO segera terwujud,” kata Romy.

Sebelum parade, Hj. Bunda Indah dalam arahannya dengan lantang menegaskan bahwa negara bisa maju dan hebat karena ada kontribusi perempuan.

“Bangkitlah perempuan Indonesia!. Mari kita lestarikan budaya kebaya sebagai identitas diri yang melambangkan keindahan, kesantunan serta kewibawaan perempuan Indonesia,” kata Bunda Indah.

Ketua Tim Nasional Pengajuan Hari Kebaya Nasional, Lana T. Koentjoro, turut hadir menyaksikan langsung parade Kebaya yang juga dihadiri pejabat di lingkungan Kota Medan.

“Kita apresiasi dukungan masyarakat Sumatera Utara sangat luar biasa. Ini bukti dan komitmen kecintaan perempuan Indonesia terhadap Kebaya sebagai identitas budaya Indonesia. Sebagai aset bangsa tentunya kita ingin menjaga agar tidak di caplok bangsa lain. Kegiatan ini salah satu bentuk dukungan dari Sumatera Utara, agar kita terus berjuang mendaftarkan Kebaya ke UNESCO,” ujar Lana.

Parade dan Gebyar Kebaya Nasional diisi dengan Fashion Show, Pawai, Tarian Etnik dan Hiburan.

Semarak Parade Kebaya di Sumatera Utara didukung berbagai komunitas perempuan, ibu-ibu Bhayangkari, Persit, Dharma Wanita dan Puteri Indonesia Sumatera Utara, Sarah Panjaitan.

(Kominfo Dairi/nd1).